Julai 21, 2019
Sebenarnya aku tidaklah sesegar mana untuk berkongsi teori kehidupan pada waktu begini. Tapi disebabkan otak aku tak boleh fokus sepanjang d...
Sebenarnya aku tidaklah sesegar mana untuk berkongsi teori kehidupan pada waktu begini. Tapi disebabkan otak aku tak boleh fokus sepanjang dua tiga hari ni, aku terpaksa muntahkan segalanya sebelum ia menjadi tengkorak berulat dan busuk membangkai dalam diri.
Sambil mencari muzik latar yang sesuai agar idea berjalan dengan lancar, aku mulakan kupasan teori ini dengan melihat 20 tahun hidup ke belakang dan juga kehadapan.
Kenapa tidak sekarang?
Sebab, aku nak kau nampak perbezaan antara fasa perubahan dalam hidup kau.
Pemikiran ini semakin bergolak bilamana hari yang selama ini dihitung kita bersama telah menjadi realiti.
"Normal ke kalau kita sedih dengan perpisahan macam ni?" tanya sang sahabat.
Aku angguk bersahaja. "Normallah tu..." kata seolah perpisahan itu suatu perkara yang terbiasa. Manakan tidak, seawal usia 12 tahun aku sudah terpisah asing dari keluarga, hingga kini rasa itu seolah suatu kedamaian. 'Bahaya kau ni...' umi pernah berkata.
Aku pandang umi, dengan persoalan 'Kenapa pulak?'. Umi hanya diam sebab tidak tahu mahu terangkan bagaimana. Mungkin talian komunikasi kami telah lama bersilang arus. Entah...
"Saya pernah baca..yang orang kata pertemuan, perpisahan semua tu kan, hanya sekadar mainan perkataan yang dicipta oleh minda untuk bagi kita rasa kesedihan. Betulkan?"
Allah, Ain,,,,kaulah satunya manusia yang imaginasi kita boleh bergabung saat berbicara. Aku pun pernah terbaca kenyataan itu. Tapi, entahlah...barangkali hati ini sudah dingin salju membeku semenjak bila, aku pun tidak tahu. Jadi bila dipisah, terpisah ini bagi aku ia sekadar suatu detik yang aku akan gabungkan bersama menjadi satu video berlatar belakangkan tema yang sesuai.
Apa fasal aku rasa penyampaian kau kosong malam ni?
Sebab jiwa itu telah hilang diragut kehidupan yang serba berselarut mengejar modenisasi duit dan berakhir dengan...aku tak tahu...
"Lepas habis belajar, agak-agak kita senang tak nak jumpa lepak macam ni?" tanya Ain lagi. Rakan penghujah bersama Teori Penyu.
"Nak tak nak kita terpaksa blend in dengan kehendak kehidupan. Yeah, memang hidup perlukan passion tapi sekadar passion tanpa blend in, kita tak kemana, sebab kita masih tak mencipta sejarah agung. Kemodenan kini memaksa kita untuk menjadi seperti mereka..."
Taipan terhenti, melangu seketika...'Ain, next time kita borak, nampak gayanya memang kena rekod...'
"But how we're gonna to stand out after we blend in the society?"
"Tetapkan prinsip hidup, pendirian diri dan kenal diri sendiri dengan lebih terperinci baru kita tahu yang keunikan kita bukan sekadar teori. Tapi, untuk berdiri setelah lama mencangkung itu bukan senang. Samada kitakan selesa dengan cangkungan itu kerana sudah tidak merasa kewujudan kaki akibat kekebasan atau kita menyeringai kesakitan akibat kebasnya kaki dan kita pilih untuk stand out..."
How?
Kau tahu jawapannya. Kenal pasti punca kebasnya kaki tadi itu, dan kau kawal ia dengan sebaiknya...
atau...
jangan pernah lupa warna usul kau...
span atau iguana? tanyamu...
Terpulang bagaimana kau mahu tafsirkannya. Ayah aku bilang, jadilah seperti ikan. Hidup dilaut masin, tapi tak pernah memasinkan dirinya...
Blend in, stand out....
Tapi aku yakin, bilamana kau pilih untuk mengaplikasikan teori ini, kau akan merasa seperti Lone Wolf...Asing benar rasanya. Sehingga mahu berbicara pun kau lupa apa itu A BA TA...A BA CA...
Kenapa nak stand out?
Kata nak cipta sejarah menjadi lagenda bukan sekadar mitos....
Kalau semua orang nak stand out, apa uniknya??
Yang mentafsirkan unik itu abstrak, sama seperti cantik, sempurna, sedap dan lainnya...
Tak rasa ke manusia yang stand out ni orangnya pelik-pelik dan sebenarnya mereka tak betah untuk blend in?
As long as kita bekerjasama sebagai satu pasukan, dan kemudiannya membawa hala tujuan sendiri, bagi aku itu sudah memadai untuk hidup harmoni.
Stand out buat kita punya identiti yang tersendiri. Tiada copy paste, tiada ikutan dari mana-mana budaya dan bukan sekadar ikutan semata-mata...sebab kita sudah kenal mana letak duduknya diri kita untak berpasak dimuka bumi ini.
Taipan panjang berjeda....kenapa tidak kau hidup sekarang? Itukan lebih menyenangkan. Appreciate the present, they said.
I will.
Esok hari yang panjang untuk aku masuk dalam blender, dikisar halus oleh kemahuan dunia. Aku harap, selepas fasa 49 hari ini, aku masih punya kudrat untuk stand out dengan lebih utuh...itupun kalau daging-daging manusiawi dan rohani aku masih kental dalam menyatukan balik jasad untuk aku berdiri...sebab kadang aku rasa, isinya sudah lama tiada. Sebab itu bilamana masuk blender, yang keluar adalah sisa tengkorak. Menghasilkan tarikan pada bau neraka...
Aku takut tersalah masuk blender dan end up aku tersekat di dasarnya hingga aku tak jumpa jalan untuk stand out...
Blend in stand out ini semacam sudah sesat ke horizon lanun yang karam tamakkan harta karun...
Julai 08, 2019
If you decide to sell your home so that you can afford a new one, you may experience a period of homelessness, especially if you run into so...
If you decide to sell your home so that you can afford a new one, you may experience a period of homelessness, especially if you run into some monetary problems. Maybe you are yet to receive the proceeds from your old house, or the bank has not approved your loan. In such case, you will need to look for a place to live for a short period of time. You can decide to rent an apartment or live in a hotel until you can move to your new home. A bridging loan can help you to “bridge” this gap between the sale of your home to the purchase of a new one.
A bridging loan allows you to borrow up to 15 percent of the value of your new home. The loan comes with a six-month tenor. When applying for a bridging loan, you need to provide your Option to Purchase document. The document is the contract for your new property that gives you the right to that home. Most banks that offer home or mortgage loans also provide bridging loans. However, you cannot apply for a mortgage and a bridging loan from different banks.

A bridging loan often comes with an interest rate of around 5% to 6% per annum. Most banks allow you to service the interest during the tenor, and repay the rest of the money after receiving the proceeds from your old property. Bridging loans are often expensive since they come with high-interest rates and fees. Make sure you consider the tenor length, interest rate, and expenses before applying for a bridging loan. There are two types of bridging loans to choose from: capitalized interest and simultaneous repayment bridging loans.
Capitalized Interest Bridging Loan
The repayment of this bridging loan is activated after you receive the proceeds of your original home. The bank then finances the entire amount of your new property. The interest rate accrues over the tenor period.
Simultaneous Repayment Bridging Loan
In this type of bridging loan, the bank demands that you make payment of both your new property and bridging loan at the same time. The bank provides you with a 12 month period in which you are expected to sell your old home and repay the loan.
Singapore is one of the most expensive countries in the world. As such, you need to ensure that you get the cheapest bridging loan available in the market. Choose a financial institution that does not strain your finances and at the same time, allowing you to get your dream property. Make sure that the amount your bank is offering is sufficient to avoid topping up. You should also consider your Total Debt Servicing Ratio (TDSR) when applying for your loan. TDSR is a government framework in Singapore that keeps your loans and balances in check. The structure calculates the percentage of your income that goes into repaying your loan. if your TDSR is at 40%, no more than 60% of your income should go to debts.
For more information, you can visit Bridging Loan in Singapore.
Jun 28, 2019
Masuk bulan Julai ni, genaplah lima bulan aku tukar platform blogging daripada Blogger ke Nexbuilder. (Sorry gais aku masih tak punya kajian...
Masuk bulan Julai ni, genaplah lima bulan aku tukar platform blogging daripada Blogger ke Nexbuilder. (Sorry gais aku masih tak punya kajian dan data yang mendalam mengenai Nexcipher untuk direview, bagi peluang aku habis final dulu, then baru aku boleh bentang dan kupas isu Nexcipher ni lebih mendalam-cakap jelah kau nak chill dengan Netflix, kan senang)
So, disebabkan gap antara satu paper ke satu paper yang lain itu boleh melancong dan makan angin, aku pilih untuk 'touch-up' blog. Sebenarnya blog ni masih separa siap dan belum sempurna sepenuhnya. Kalau ada terlihat cela parut blog ni dimana-mana, butakan saja mata kalian buat sementara (hahahaha)
Cerita hari ni adalah perkongsiaan mengenai 'What happens when you change your blog platform?'. Kalian benar ingin tahu? Benar ni?
- Duit korang melayang
- Masa akan terbuang
- Stress akan menjengah dan perlahan korang lupa untuk mandi
- Makan depan laptop perkara biasa
- Oh My Google Ads!
- C$&p! Viewer merudum teroks!
- Dilanda kemurungan dan procrastination dalam gubahan penukaran
- Idea kering
- Tetiba bersemangat semula masa banyak deadline perlu dihantar selepas berabad abaikan proses migration blog
- Yeay!!! Finally I can release my new version of blog!
Oh, jangan risau perkara yang aku senaraikan itu hanya berlaku pada aku. Eh? Korang pun rasa macam ni jugak...Awee...High V!
The truth is, semua orang akan melalui perkara 1 (Duit melayang) tu tadi. Lagi-lagi buat mereka yang pertama kali nak menggunakan dot com (.com). Bila first time, mestilah kena buat research dulu kan. Hosting mana terbaik, murah dan reliable. Takkan korang nak terus jump to the conclusion, pick and drag everywhere without consider about the costing right?
Bila nak buat migration blog dari blogger ke wordpress atau apa jua platform yang dirasakan awesome dan reliable, kajian itu paling kurang makan masa bertahun. Yup! Dengar tu, B-E-R-T-A-H-U-N! Why? Sama macam teori kita nak buat majlis kawen. Eh, eh ada kaitan ke? Adalah sikit....
Kenapa perlu buat kajian sebelum migration?
Wait for the next post ya!
The points is, antara 10 senarai tadi, semuanya akan mudah dan pantas jika kajian itu telah di-blueprintkan. Ah, sudah...mende pulak blue print ni? Pendek kata, paling kurang kita dah memenuhi semua senarai berikut;
- Pros n cons
- Cost comparison
- Time dedication
- Ultra speed high fibre internet
- IDEA!
LIMA benda ni sangat penting untuk melancarkan segala proses pemindahan blog kita tadi. Kalau tidak, memang banyak akan tersangkut. Macam projek pembangunan yang tiada lulusan dan over budget. Ada tengok siap on time? Opkos kalau siap, runtuhnya cepat bangat tuh...
Cukup dululah, lepas paper yang terakhir nanti kita sambung ya. Wish me all the best and may the force be with us!
Adios muchachos!
Jun 26, 2019
Hi there! Malam yang sepi lagi hening ditemani lagu-lagu yang mengimbau memori, aku dengan senang hatinya mahu bercerita mengenai dunia dipl...
Hi there!
Malam yang sepi lagi hening ditemani lagu-lagu yang mengimbau memori, aku dengan senang hatinya mahu bercerita mengenai dunia diploma dan dunia degree.
Idea ni tercetus atas permintaan member diploma dulu. Yeah, kau tahu siapa. Dan entri ni dengan terbukanya aku tujukan kepada semua. No hurt feeling here.
Rasa macam biased tak entri ni nanti? Yelah, dari awal lagi memang aku akan beratkan life diploma dari degree. Alasan?
Dah memang diploma lagi awesome kot! Degree life benda yang aku ingat dan memorable pun langsung tadak kaitan dengan dunia pembelajaran. Aku paling ingat hidup as makhluk asing yang sibuk kejar pelbagai sisi, dan tak pernah ingat nama ayah setiap sorang dalam kelas.
Okay kita mula dengan Diploma life.
Aku diploma dekat Arau.
Terang lagi bersuluh Arau adalah satu tempat yang sangat dekat dengan jiwa, tenang, country style, ada sawah, penuh adventure, dan yang paling penting segalanya murah.
Awal kelas aku kenal Alia. Dan kitaorang terusan kawan sampai sekarang. The best teammate ever la aku boleh labelkan Alia ni. Kalau diimbau balik, aku masih ingat semua orang punya nama penuh bagi keseluruhan kelas Ca diploma dulu. Nampak tak betapa ambil tahunya aku dengan rakan sekelas even diorang tak pernah kisah pun aku ni siapa. Sebab?
Diploma life adalah dunia ciptaan yang aku selalu impikan agar ia menjadi babak yang aku takkan lupa. Setiap sem ada objektif untuk dicapai, walau dipertengahan sem ianya agak barai dan serabai. Paling best, aku akan luangkan masa sendirian di tiga tempat ni: library, Academic Height dan Dahlia 3.
Kau tahu spot lepak kau saat perlukan ketenangan. Kau tahu yang headphone, muzik dan ritma serta buku itu akan sentiasa menjadi peneman kau. Sebab kau tak give a damn shit dengan perkara dan benda lain yang tiada memberi impak dalam babak cerita kau.
[caption id="attachment_1051" align="aligncenter" width="1024"]
Arau dalam kenangan[/caption]
Jadi, dunia idaman itu wujud secara realiti ketika zaman diploma. Dari sudut kawan, aku akan on memana plan yang diorang rancang sebab aku tahu moment tu tak akan berulang. Dan jika ia punya ulangan sekalipun, impak dia takkan pernah sama.
Cuma pada penghujung diploma aku agak spoil sebab ada parasit masuk kumpulan kitaorang. Dan paling hantunya, aku boleh pulak kena infection parasite tu. Memang menyesal nak maki hamun diri sendiri pun ada jugak. Sampai sekarang aku masih rasa penangan kebodohan aku tu. Arghhhhh! (yang hantunya, ia masih menyebarkan racunnya even dah masuk dunia degree). God I hate myself!
Degree Life
Degree di Shah Alam.
Aku tak pernah plan bagaimana ia akan berjalan. Sebab aku punya aim dan objectives lebih kepada mencari side income dan pengalaman luar tempurung kaca.
Belajar? Masih fokus belajar, tapi dah tak kisah dengan pangkat dean list semua. Realitinya tak begitu indah. Jadi banyak tahun aku bercelaru.

Even dah tahun akhir pun, aku tak pernah sebati dengan budak kelas. Semacam ada gaung, jurang dan dinding antara satu sama lain. Walau masing-masing senyum dan gelak didepan, realitinya...bertikaman. Macam yang berlaku dalam satu group zaman diploma dulu.
Jujur dua tahun sebagai budak degree, aku tak rasa nak mencipta bonding and chemistry dengan rakan kelas. Ah, mungkin aku tak pernah aim untuk meluaskan network dikalangan mereka. Mungkin...
Dan tahun berganti, aku rasa macam hipo everywhere. Rasa tak best sumpah tak best! Lagi-lagi bila kau adalah orang yang punya prinsip hidup, introvert dan bukan kaki kipas yang terpaksa blend in. Semacam tak best dan sakit. Aku pun tak tahu apa sebenarnya tujuan aku untuk menjadi ramah. Mungkin ada hikmah yang masih belum diterjemah...
Jadi aku bagi peluang dekat degree untuk gunakan baki terakhir untuk kenal dengan semua budak kelas. Bolehlah...tapi tak sebest diploma. Hahahaha...degree life hanya boleh sampai level 'bolehla' dan tak lebih dari itu. Lagi satu hal, dunia degree kau boleh nampak atur hidup kau dengan lebih jelas. Pertarungan realiti dan hidup dalam kaca memang sengit dan banyak melukakan. Semua tabir dan hijab bagai terselak dengan sengaja.
Tipulah kalau kau tak pernah menangis sepanjang degree. Setiap sem kau akan terinsut punya.
Konklusinya, aku tak move on langsung dengan kebebasan dan pengalaman hidup di Arau. Aku rindu bau dia, pemandangan dia, tom yam dan segala tentang Arau. Shah Alam is good for surviving but Arau is way more great to know who you really are.
So diploma life aku akan kenang sampai hujung nyawa. Degree life maybe aku lebih ingat tentang luar dari kawasan kampus dan lebih kepada pengalaman mengharungi dunia sebagai someone who I never thought I would be. Sebab tu aku lost. Identiti itu aku langsung tak pernah detik untuk jadi.
Okaylah, aku akhiri entri ni dengan 'I miss you Arau' dan 'So long farewell Shah Alam'.
Ke mana pula hidup kita selepas semua ini berakhir?
Jun 25, 2019
Do you think about me cause I don’t have any doubt you must in this life Even though you’re never there, I didn’t feel you disappear from si...
Do you think about me cause I don’t have any doubt you must in this life
Even though you’re never there,
I didn’t feel you disappear from sight, you did it well.
Dua bulan yang lepas, Sum 41 ada keluarkan album baru diorang yang berjudul 'Order in Decline'. Dan dalam album ni aku dah berjuta kali mendengar lagu yang bertajuk 'Never There' among others song. Sebab?
- Ia seolah cetusan baru bagi lagu yang begitu menggamit memori seperti; 'With Me', 'Pieces', 'War, dan 'Best of Me'.
- Lagu yang begitu personal bagi Deryck dimana dituju untuk ayah dia (I just love personal song...)
- Dekat dengan jiwa dan kena dengan situasi hidup untuk dua dekad yang lalu...
[embed]https://www.youtube.com/watch?v=xQwTTalT5u0[/embed]
Apakah aku begitu tua dengan mengatakan aku sudah hidup selama dua dekad?
Nope man, aku masih lagi budak hingusan yang mengemis di jalanan mencari makna hidup yang sebenar biar kalam al-quran itu sentiasa ada untuk dijadikan rujukan.
Aku pernah mendengar satu gosip murahan ini yang mengatakan aku adalah budak muallaf yang baru kenal islam. Respon aku?
Gosh! Kalau aku muallaf aku tak masuk islam seawal ni barangkali. Mungkin masih berfoya, liar dan tidak wujud blog berupa orang yang lemas dilautan tak berpangkalan sebegini. Macam mana kau boleh terfikir yang aku ni baru masuk islam?
Mungkin benar. Mungkin aku masih jahil dan buta untuk praktikkan semua ilmu amal islam dari setiap sudut, ruang dan penjuru.
And now You and I share the same life missing out So the story goes
That we’re left, we’re stuck with a broken house.
I know that if I I had the chance I’d let you know, that I understand and I’ve let it go.
Kenapa susah sangat untuk mengkritik orang secara bersemuka? Kalau itu benar kenapa tidak palit saja cerita palsu itu pada aku? Tak perlu pun kau sebarkan seolah kau benar-benar kenal aku. You never there!
Ah, manusia dan spekulasi...bagai hingus dan air liur basi. Sentiasa ada walau kita bersihkan setiap hari.
Bidalan yang bagus kawanku. Apa kau sudah hilang akal?
Aku tak pernah hilang akal. Yang selalunya, bila aku membiarkan emosi dan perasaan mengawal akal waras. Masa itu mungkin berjuta kerja bodoh dan gila yang aku langsung tak mengaku samada itu aku atau syaitan yang lakukan.
Lagu ni dalam maksudnya.
Mungkin aku boleh tujukan pada semua yang 'Never There' untuk dua dekad itu. Ia sedih, sadis dan begitu menyiat rasa. Tapi, kau tahu...sebab tiadanya mereka disisilah kau terusan hidup tanpa sebarang putus asa. (Walau beribu kali juga kau fikir untuk harakiri atau jika ia halal sudah lama kau akhiri...)
Tapi aku biarkan saja...sebab aku pun sama macam mereka. Barangkali lagi teruk sebab aku pun 'Never there' for them. Jadi kita seri sama.
Jadi aku pilih untuk diam dan biar ia berlalu bagai dandelion yang tiada arah tuju dan tempat daratan. Mungkin dandelion itu bisa mengecap angkasa dan menjadi bintang...aku tak tahu.
I don’t need you by my side I think by now I’m doing fine myself, on my own
But I feel you time to time, like your sending outta sign to tell say I’m not alone
Walaupun mereka tiada pada saat itu, tapi doa mereka tidak pernah putus. Doa kita. Sebab setiap yang hidup semua bergantung pada pengharapan. Hope. Harapan yang buat jiwa punya objektif, matlamat dan sasaran. Walau kadang penat, kita tetap bangkit.
Dan ada masanya juga, aku hanya mahu Netflix and chill. Dunia terlalu pantas untuk dikejarkan. Tiada sisi yang perlu pada kita seorang.
Who cares if one more light goes out?
In a sky of a million stars...
It's kind of heavy tho.
Commitment, priority, dosa pahala, syurga neraka, single loser, married winner such things...
sampai satu masa kau diketuk dengan pemikiran sebegini kau rasa macam nak ambil saja pisau dekat dapur dan tikam saja diri ini tanpa ragu. Sebab kau tahu, hidup kau macam tak bermakna sebab semua 'box' kau satu pun tak pernah di'tick' sejak kau kecik sampai sekarang.
There are things that we can have, but can't keep
I'm very sorry if I never there for all of you...and I always pray that all of us will have a great ending. Di sana...
Jun 24, 2019
Yup and yup and yup! Bila naik tajuk movie baru itu tandanya aku baru usai tonton ia di wayang. Baru rajin nak keluar menjengah dunia luar d...
Yup and yup and yup! Bila naik tajuk movie baru itu tandanya aku baru usai tonton ia di wayang. Baru rajin nak keluar menjengah dunia luar dengan menjejakkan kaki ke wayang. Walaupun fasa final exam itu belum sepenuhnya habis dengan selamat, memandangkan gap seminggu itu buat aku tak keruan untuk menonton the best childhood movies ever!
Sambil layan lagu terbaru Sum 41 'Never There', aku mulakan jemari menari.
The first Toy Story was aired in 1995.
Masa tu aku baru tiga tahun, tapi cerita tu aku tengok sampailah sekarang. Ia seolah membesar bersama. Mungkin Andy itu sebaya aku. Boleh jadi. Tapi entri ni bukanlah untuk kasi spoiler. Untuk semua peminat Toy Story, silalah maju ke wayang terdekat dan ketawa bersama menangis bersama saat menontonnya.
Sungguh, cerita ni lagi sedih dari Endgame! Wait what???
Serius, memanglah ia kartun. Come on babe, mana ada orang nangis tengok kartun. Eh, jangan dowh....berapa banyak kartun aku tengok end up dengan menenyeh hujung mata dek kerana touchy dengan mesej dan juga punchline movie tersebut.
First, aku nak cerita part yang buat aku tak berhenti ketawa terbahak-bahak sampai terpaksa menganggu orang hahahahahaha please....no one watch cinema with a dead emotion right? You should throw all your emotion while watching it...if not...your are in the wrong room my man....
Part ketawa bagai kena rasuk;
Bila Buzz tanya Woody bagaimana bunyi suara yang dia dengar setiap kali dia buat sesuatu yang di luar jangka? Yang si Buzz ni pulak kind of noob, dianya pergi tekan semua butang dekat badan dia sebab dia anggap yang itu adalah suara hati yang Woody maksudkan. Can you get it man? Nope? You didn't get it? Hahahaha
Then it's okay.
Coz the entire conversation about "listen to your inner voice thing" adalah punch line dan mesej utama bagi movie ini. God! Aku sangatlah menganggu penonton lain. Adoyai! hahahaha I'm really miss my childhood moments...isn't it nice to not knowing anything and just be that innocent?
Okay, move on.
Part yang buat aku menangis adalah;
Bilamana Buzz cakap 'To infinity...' dan Woody jawab '...and beyond'. It's kind of heartbreaking relief kind of thing. Dia semacam pengakhiran bagi perjalanan kisah Toy Story yang aku tak boleh terima hakikat yang semua watak itu akan bertemu pengakhirannya.
Seolah semua orang nak matikan watak sebelum ketibaan 2020. Semua cerita lama sudah move on dan memberi laluan kepada fasa dunia baru.

Aku tak sedia! Faham tak?
Aku masih nak Andy yang menjadi satu-satunya budak yang sayangkan permainan dia.
Aku nak Woody dan Buzz sentiasa jadi buddy sepanjang hidup mereka.
Aku nak...semua permainan Andy kekal bersatu selamanya walau tuan mereka sudah bertukar-tukar. Tapi...
...itu bukanlah realiti yang kita hidup. Dengan mendengar suara hati, Woody sanggup...dengan mendengar suara hati...mereka terusan bersatu walau tidak bersama. The relationship thing is going to be damn strong when you have to become a true legend. Kau macam penyu. Hahahaha
Suara hati. Kemana kau bawak aku pergi?
Zaman lalu atau hidup masa kini?

Aku cuba untuk lari dari realiti. Larian itu seolah memberi harapan agar tiada apa yang berubah. Berharap semua kekal sama walau aku sendiri sudah berpaling tadah. Macam Inception. Tak boleh terima kenyataan bahawa setiap angan itu jua punya pengakhiran....huh...suara hati itu amukan rasa yang tidak solidkah?
Entah. Woody lebih tahu. Sebab tu dia pilih untuk mendengar, dan dia bahagia...walau terpaksa asing.
You're totally my idol lah Woody. Dari kecik sampai sekarang dan untuk selamanya. Okaylah terpanjang pulak bebelan dan review pasal TS4 ni. Sampai bertemu di dunia lain. Adios!
p/s: Inspirasi sebenar di balik Woody adalah the great actor; Tom Hanks. You're totally my idol sir.